Seskab Teddy memaparkan bahwa langkah aktif Presiden Prabowo di kancah internasional didorong oleh kondisi dunia yang saat ini dipenuhi konflik global. Indonesia, menurutnya, harus proaktif membangun jaringan pengaman (security net) dan hubungan baik sebelum krisis berdampak lebih dalam pada domestik.
"Kita tidak bisa hanya mengandalkan saat krisis baru kita minta bantuan. Tidak. Kita harus panen hubungan yang baik. Bila suatu saat ada kondisi mendesak, kita bisa minta bantuan, dan begitu pula sebaliknya," jelas Teddy.
Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), aktivitas diplomasi ekonomi Prabowo diklaim telah mendatangkan hasil konkret. Dalam kurun waktu 1,5 tahun terakhir, total investasi yang masuk ke Indonesia mencapai sekitar Rp2.430 triliun.
"Contoh konkret lagi, bulan lalu Presiden Prabowo ke Jepang dan Korea, kembali langsung ada komitmen investasi sekitar Rp575 triliun," ungkap Teddy.
Selain angka investasi, Teddy membeberkan sejumlah capaian strategis lainnya yang dihasilkan dari rangkaian kunker tersebut. Di antaranya adalah kelanjutan kerja sama dalam forum BRICS yang menjaga stabilitas pasokan BBM serta stok pangan nasional tetap aman di tengah gejolak rantai pasok global.
Pemerintah juga mencatat capaian pemberlakuan tarif 0 persen dari Uni Eropa untuk komoditas tertentu, penguatan alutsista TNI, optimalisasi penyelenggaraan haji termasuk realisasi proyek Perkampungan Haji RI di Arab Saudi, serta penguatan peran aktif kemanusiaan Indonesia untuk Palestina di panggung internasional.