• Kamis, 4 Juni 2026

Bahaya Terselubung Kantong Kresek Hitam untuk Bungkus Daging Kurban

Photo Author
Candra Winata, Inews86.com
- Kamis, 28 Mei 2026 | 19:04 WIB
Fhoto Daging Kurban Idul Adha 1447 H (iStock/Evri Onefive))
Fhoto Daging Kurban Idul Adha 1447 H (iStock/Evri Onefive))

JAKARTA-iNews86.Com|Kamis 28/5 — Penggunaan kantong plastik kresek hitam sebagai wadah pembungkus daging kurban pada momentum Idul Adha masih marak ditemui di tengah masyarakat. Padahal, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta para pakar kesehatan telah mengingatkan bahwa plastik non-food grade tersebut menyimpan risiko cemaran zat berbahaya bagi kesehatan manusia.

​"Banyak plastik yang beredar, yang kresek hitam itu, bukan food grade. Artinya, kalau dia kontak dengan makanan maka komponen dari plastik itu pun, yang digunakan untuk membuat plastik akan terlucuti dan masuk ke dalam makanan," ujar profesor teknologi pangan dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Ir. Purwiyatno Hariyadi saat dikonfirmasi, Sabtu (9/5/2026).

​ANCAMAN ZAT KARSINOGEN DAN DAMPAK BURUK BAGI KESEHATAN

​Berdasarkan penjelasan resmi BPOM, sebagian besar kantong kresek hitam merupakan produk hasil daur ulang limbah sintetik yang riwayat penggunaan sebelumnya tidak diketahui pasti. Plastik daur ulang tersebut sangat rentan mengandung sisa kemasan pestisida, bahan kimia industri, hingga logam berat berbahaya seperti timbal.

Baca Juga: Mengenal Ancaman Virus Hanta yang Disebarkan Tikus di Lingkungan Rumah

​Senada dengan hal tersebut, Ketua Program Studi Gizi Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta, Agung Nugroho, menegaskan bahwa penggunaan plastik sekali pakai ini sangat berisiko bagi publik. "Kantong plastik mengandung zat karsinogen dan logam berat seperti timbal yang berisiko bagi kesehatan. Selain itu, bahan pembuat kresek hitam juga dilaporkan mengandung polivinil klorida (PVC) yang secara internasional berbahaya untuk pangan," kata Agung.

​Di sisi lain, dari sudut pandang klinis, dokter spesialis penyakit dalam konsultan hematologi-onkologi, Dr. dr. Andhika Rachman, Sp.PD-KHOM, memberikan pandangan yang berimbang. Menurutnya, potensi bahaya dari paparan plastik daur ulang ini relatif kecil jika durasi kontaknya hanya berlangsung dalam waktu yang singkat.

​"Itu kan sebentar, artinya enggak lama-lama, enggak berhari-hari. Interaksinya terjadi ketika dia panas dan sebagainya hingga memuai, baru kita lihat bagaimana senyawa itu berinteraksi dengan di dalamnya," tutur dr. Andhika. Ia memaparkan bahwa mayoritas masyarakat biasanya langsung memindahkan atau mengolah daging kurban sesampainya di rumah, sehingga interaksi senyawa kimia plastik dapat diminimalkan.

​Bagi dr. Andhika, risiko pemicu kanker yang jauh lebih krusial justru terletak pada kesalahan proses pengolahan daging di tingkat konsumen. "Daging merah sebenarnya tidak menyebabkan kanker. Tapi pengolahan yang salah, seperti dibakar sampai gosong, konsumsi berlebih di atas satu kilogram per minggu, atau terlalu banyak mengonsumsi makanan awetan dan daging kalengan, itu yang memicu kanker," tambahnya.

​LONJAKAN TIMBULAN SAMPAH PLASTIK DAN SOLUSI RAMAH LINGKUNGAN

​Selain berisiko pada aspek kesehatan, tradisi pembagian hewan kurban dengan kantong sekali pakai turut memicu persoalan ekologis yang masif. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memproyeksikan timbulan sampah plastik dari pelaksanaan Idul Adha dapat menembus angka 608 ton, yang setara dengan pemakaian 121,5 juta lembar kantong kresek dari jutaan ekor hewan kurban yang disembelih secara nasional.

​Kondisi lapangan ini memantik kekhawatiran tersendiri bagi warga urban yang peduli terhadap lingkungan. Salah seorang warga asal Sleman, Yogyakarta, Hapsari (34), mengeluhkan menumpuknya limbah plastik setiap kali perayaan hari besar keagamaan usai dilaksanakan.

​"Setiap tahun usai pembagian kurban, tempat sampah di lingkungan perumahan selalu penuh dengan plastik hitam bau amis. Kami berharap panitia kurban mulai beralih ke wadah yang bisa dipakai berulang kali agar tidak mengotori lingkungan," ungkap Hapsari saat ditemui di sekitar lokasi pemukimannya.

​Menanggapi persoalan ini, gerakan penggunaan wadah alternatif yang ramah lingkungan kini mulai digalakkan oleh sejumlah pengurus rumah ibadah. Sebagai contoh, Masjid Quwatul Islam Perumnas Condongcatur diketahui telah menghentikan penggunaan plastik sejak tahun 2004 dan beralih memakai kontainer food grade serta wadah reusable yang diberi label nama warga.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Candra Winata

Tags

Terkini

X