JAKARTA -iNews86.Com|Kamis 28/5– Kementerian Luar Negeri Korea Selatan mengumumkan hasil penyelidikan resmi yang menunjukkan dugaan kuat keterlibatan rudal anti-kapal milik Iran dalam serangan terhadap kapal kargo HMM Namu. Insiden tersebut terjadi di kawasan strategis Selat Hormuz pada 4 Mei lalu.
Pemerintah Korea Selatan merilis temuan ini setelah melakukan analisis mendalam terhadap puing-puing proyektil yang tertinggal di dalam lambung kapal kargo tersebut. Komponen fisik yang ditemukan mengindikasikan bahwa senjata yang digunakan berkemungkinan besar merupakan perangkat militer buatan Teheran.
"Berbagai bukti mengarah ke Iran," ujar Wakil Menteri Luar Negeri Pertama Korea Selatan, Park Yoon-joo, sebagaimana dikutip dari Reuters pada Rabu (27/5/2026).
INDIKASI SPEKTRUM MILITER DAN COCOKAN HULU LEDAK
Berdasarkan hasil investigasi teknis, Park Yoon-joo menjelaskan bahwa hulu ledak yang menghantam kapal kargo tersebut memiliki karakteristik yang sangat identik dengan jenis rudal anti-kapal milik militer Iran, seperti varian Noor atau Qader.
Data kronologi di lapangan juga mengungkapkan bahwa kapal HMM Namu dihantam amunisi tersebut sebanyak dua kali berturut-turut. Efek kerusakan fatal baru muncul pada hantaman kedua ketika hulu ledak utama berhasil terpicu dan meledak di dalam area kapal.
"Namun dari sudut pandang angkatan laut, penembakan rudal hingga dua kali menunjukkan adanya niat untuk menimbulkan kerusakan," tambah Park saat menjelaskan aspek teknis serangan tersebut.
Meskipun bukti material merujuk pada asal-usul senjata, Pemerintah Korea Selatan menyatakan pihaknya masih bersikap hati-hati. Seoul belum menetapkan entitas spesifik yang meluncurkan serangan maupun motif utama di balik penargetan kapal komersial tersebut.
Sebagai langkah diplomatik lanjutan, otoritas Korea Selatan menjadwalkan pemanggilan resmi terhadap Duta Besar Iran di Seoul. Langkah ini bertujuan untuk menyampaikan nota protes sekaligus menuntut pertanggungjawaban konkret guna menjamin keselamatan jalur pelayaran internasional di masa depan.
ESKALASI GEOPOLITIK DAN BLOKADE SELAT HORMUZ
Situasi keamanan di Selat Hormuz sendiri terus memburuk sejak pecahnya ketegangan militer akibat serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran pada 28 Februari lalu. Merespons tindakan tersebut, Teheran mengambil langkah ekstrem dengan menutup jalur pelayaran Selat Hormuz yang menjadi urat nadi distribusi minyak bumi dunia.
Ketegangan semakin meruncing setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberlakukan taktik kontra-blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran guna memaksa negara tersebut membuka kembali akses Selat Hormuz. Dampak dari gesekan geopolitik ini telah memicu lonjakan harga minyak mentah di pasar global secara signifikan.
Hingga berita ini diturunkan, Pemerintah Iran secara konsisten membantah tudingan keterlibatan mereka dalam insiden yang menimpa HMM Namu. Pihak Kedutaan Besar Iran di Seoul juga belum memberikan pernyataan resmi ataupun tanggapan tertulis terkait rencana pemanggilan diplomatik oleh Kemenlu Korea Selatan.