KAMPAR KIRI (Riau)-iNews86.Com| Senin 1/6 – Proyek perbaikan jalan lintas negara di Desa Lipat Kain Selatan, Kecamatan Kampar Kiri, Kabupaten Kampar, Riau, memicu keluhan massal dari warga setempat. Pengerjaan jalan yang berada tepat di depan SPBU Lipat Kain tersebut diduga mengabaikan aspek pengelolaan lingkungan. Akibatnya, kabut debu pekat menyelimuti pemukiman, memicu gangguan kesehatan, hingga memaksa sejumlah pelaku usaha kecil gulung tikar.
Warga menuding pihak kontraktor pelaksana, PT. Riau Mas Bersaudara, lalai dalam melakukan penyiraman jalan secara berkala. Situasi kian diperparah oleh sikap penanggung jawab proyek, Angga Saputra ST, yang dinilai menutup diri dari komunikasi dan aspirasi masyarakat yang terdampak langsung sejak satu bulan terakhir.
Baca Juga: Pancasila Living Ideology: Suhardiman Amby Minta Regulasi Kuansing Pro-Rakyat
DAMPAK KESEHATAN DAN EKONOMI WARGA LIPAT KAIN
Kondisi udara di sekitar lokasi proyek saat ini dinilai sudah tidak sehat. Berdasarkan kesaksian warga di lapangan, debu material tanah dan semen berterbangan bebas setiap kali kendaraan bertonase besar melintas. Hal ini memicu peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
"Anak-anak kami sekarang banyak yang batuk-batuk, sesak napas, dan matanya merah karena iritasi debu. Kami merasa seperti 'dimatikan perlahan' di rumah sendiri demi pembangunan fisik ini," ujar salah seorang warga Lipat Kain Selatan yang enggan disebutkan namanya demi keamanan, Senin (01/06/2026).
Selain merugikan dari sektor kesehatan, dampak ekonomi juga terpukul hebat akibat debu yang tidak terkendali tersebut. Warung makan dan toko kelontong di sepanjang jalur proyek terpaksa menutup operasional mereka karena hidangan dan barang dagangan terus-menerus terpapar debu tebal.
Baca Juga: Awas Dibongkar, Jemaah Haji Riau Dilarang Selundupkan Air Zamzam di Koper
"Pembeli tidak ada yang mau datang lagi karena kondisinya sangat kotor dan tidak higienis. Kalau dipaksakan buka, kami justru tekor karena modal masak habis tapi tidak ada yang beli. Akhirnya lebih baik tutup sementara sampai proyek ini selesai," keluh seorang pemilik warung makan di dekat area SPBU.
Warga mengaku kekecewaan mereka memuncak karena pihak kontraktor dinilai sangat minim melakukan mitigasi operasional. Selama hampir satu bulan pengerjaan berjalan, upaya penyiraman air untuk menekan laju debu tercatat hanya dilakukan sebanyak dua kali, itu pun dinilai sekadar formalitas semata.
Upaya konfirmasi dan penyampaian aspirasi telah dicoba oleh perwakilan masyarakat melalui pesan teks WhatsApp serta panggilan telepon ke nomor kontak penanggung jawab lapangan, Angga Saputra ST. Namun hingga berita ini diturunkan, pihak pelaksana proyek tidak memberikan respons maupun iktikad baik untuk berdialog.
Baca Juga: Buaya Sepanjang Dua Meter Teror Arena Pacu Jalur Tepian Lubuak Sobae Baserah
PELANGGARAN PROSEDUR DAN TUNTUTAN INTERVENSI BPJN RIAU
Pihak kontraktor diduga kuat tidak hanya abai terhadap pengelolaan debu, melainkan juga melanggar prinsip transparansi publik. Di sekitar lokasi pengerjaan proyek, tidak ditemukan adanya papan informasi proyek (project sign board) yang semestinya memuat kejelasan nilai kontrak, sumber dana, nama kontraktor, hingga estimasi waktu pengerjaan.