teknologi

Sinergi Teknologi Cerdas: Indonesia-China Perkuat Rantai Pasok dan AI

Jumat, 29 Mei 2026 | 13:23 WIB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat menerima kunjungan delegasi Pemerintah Provinsi Hebei, Wakil Gubernur Zhao Chenxin di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta (Website-Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian)

JAKARTA-iNews86.Com|Jum'at 29/5 – Pemerintah Indonesia dan Provinsi Hebei, China, resmi memperdalam kerja sama strategis dalam transformasi industri berbasis teknologi cerdas (smart technology) dan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI).

​Langkah ini diambil guna memperkuat rantai pasok global sekaligus mengakselerasi program hilirisasi nasional yang tengah digenjot oleh pemerintah Indonesia. Kemitraan ini dibahas langsung dalam pertemuan antara Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Wakil Gubernur Provinsi Hebei, Zhao Chenxin, di Jakarta.

​AKSELERASI INVESTASI DAN HILIRISASI NASIONAL

​Dalam pertemuan tersebut, Menko Airlangga Hartarto menekankan bahwa hubungan ekonomi antara Indonesia dan China menunjukkan tren yang sangat positif. Volume perdagangan bilateral kedua negara saat ini telah melonjak signifikan, bahkan mencapai tiga kali lipat jika dibandingkan dengan total perdagangan Indonesia dengan kawasan Eropa maupun Amerika Serikat (AS).

​Melihat potensi yang besar ini, Indonesia terus mendorong masuknya investasi teknologi tinggi dari China karena dinilai mampu memberikan dampak pengganda (multiplier effect) yang luas bagi perekonomian domestik.

​"Investasi tersebut diproyeksikan mampu memperluas ketersediaan lapangan pekerjaan bagi masyarakat serta meningkatkan perolehan devisa negara melalui hasil produksinya," ujar Airlangga Hartarto dalam keterangan resminya di Jakarta.

​Airlangga menambahkan, investasi berbasis teknologi tinggi ini akan menjadi fondasi kuat untuk mendukung keberhasilan program hilirisasi komoditas utama Indonesia, khususnya pada sektor nikel dan bauksit. Pemerintah Indonesia memberikan apresiasi tinggi kepada China yang selama ini konsisten menjadi mitra strategis dalam pengembangan produk-produk hilirisasi tersebut.

​Untuk menangkap peluang pertumbuhan di masa depan, Indonesia juga telah menyiapkan sejumlah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang dioptimalkan untuk industri berbasis teknologi tinggi. Salah satu wilayah yang menjadi sorotan strategis adalah Indonesia Timur, tepatnya di Provinsi Sulawesi Utara.

​"Sulawesi Utara sangat prospektif bagi pengembangan pusat data (data center) karena keunggulan geografisnya. Wilayah ini terkoneksi langsung dengan jaringan transmisi global menuju Amerika Serikat, sehingga menjamin efisiensi akses data lintas negara," kata Airlangga menjelaskan peran kawasan tersebut sebagai gerbang konektivitas data internasional.

​KOMITMEN INVESTASI DAN EFISIENSI LOGISTIK GLOBAL

​Merespons paparan tersebut, Wakil Gubernur Provinsi Hebei, Zhao Chenxin, memberikan apresiasi terhadap langkah-langkah taktis yang diambil Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Menurutnya, kebijakan yang dikeluarkan pemerintah Indonesia berhasil menciptakan iklim investasi yang kondusif bagi pelaku usaha asing.

​Zhao menegaskan bahwa Provinsi Hebei, yang dikenal memiliki perkembangan pesat di bidang industri smart technology dan AI, berkomitmen penuh untuk mendorong pengusaha lokal mereka agar memperluas ekspansi bisnis ke Indonesia.

​"Kami menyambut baik masukan dari Menko Airlangga dan akan segera mengomunikasikannya kepada komunitas bisnis di China agar dapat ditindaklanjuti secara konkret sebagai pertimbangan investasi ke depan," tegas Zhao Chenxin.

​Sebagai informasi tambahan dari data Kementerian Investasi/BKPM, China secara konsisten berada dalam daftar tiga besar investor asing terbesar di Indonesia. Realisasi investasi ini sebagian besar tersebar di sektor industri logam dasar, serta sektor transportasi dan telekomunikasi, yang sejalan dengan fokus pengembangan smart technology saat ini.

Halaman:

Tags

Terkini