JAKARTA-iNews86.Com| Kamis 28/5 — Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman penyakit zoonosis yang ditularkan oleh hewan pengerat (rodensia). Selain leptospirosis dan pes, terdapat satu penyakit berbahaya lain yang belum banyak dikenal publik, yakni penyakit virus Hanta.
Virus dari genus Orthohantavirus ini berpotensi memicu wabah di Indonesia jika populasi reservoirnya tidak dikendalikan dengan baik.
"Penyakit virus Hanta ditularkan melalui kontak langsung dengan cairan tubuh tikus seperti saliva, urin, dan feses yang mengenai luka terbuka atau mukosa mata, hidung, dan mulut, serta melalui aerosol atau partikel debu yang terkontaminasi," ujar ahli kesehatan hewan, drh. Ayu Pradipta Pratiwi, Pada (16/02/2024) yang Lalu di akun Resmi Kemenkes.
STRAIN SEOUL VIRUS MENGINTAI LINGKUNGAN MASYARAKAT
Hingga saat ini, jenis tikus yang terkonfirmasi menjadi reservoir utama virus Hanta di Indonesia sangat beragam. Mulai dari Rattus norvegicus (tikus got) dan R. tanezumi (tikus rumah) yang kerap dijumpai di area pemukiman, hingga mencit rumah (Mus musculus), tikus wirok (Bandicota indica), tikus sawah (R. argentiventer), tikus ladang (R. exulans), serta tikus belukar (R. tiomanicus). Kondisi ini membuat sebaran virus Hanta meluas di berbagai tipe habitat.
Penyakit ini dikenal memicu dua manifestasi klinis utama secara global, yaitu Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) dengan angka kematian mencapai 60 persen di Benua Amerika, serta Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang marak di Eropa dan Asia dengan angka kematian 5 hingga 15 persen. Di Indonesia sendiri, jenis yang paling sering ditemukan adalah Seoul Virus (SEOV) yang merupakan penyebab tipe HFRS.
"Gejala awal infeksi strain SEOUT ini meliputi demam, sakit kepala, nyeri punggung dan perut, mual, hingga munculnya ruam dan kemerahan pada mata," kata drh. Ayu Pradipta Pratiwi menjelaskan. Ia menambahkan bahwa pada fase lanjut, pasien dapat mengalami kegagalan fungsi ginjal seperti oliguria (berkurangnya urin) dan anuria (urin tidak keluar), perdarahan saluran cerna, hingga gangguan fatal pada sistem pernapasan serta saraf.
Di sisi lain, perwakilan warga dari pemukiman padat di Jakarta Barat, Budi Santoso (42), mengaku belum pernah mendengar tentang penyakit ini sebelumnya. "Kami biasanya hanya tahu kalau tikus itu membawa kencing tikus (leptospirosis). Informasi mengenai virus Hanta ini sangat baru bagi kami, dan jujur cukup mengkhawatirkan karena di daerah got perumahan memang masih banyak tikus besar," keluhnya. Hal senada juga disampaikan oleh Ketua RT setempat yang berharap ada sosialisasi berkala dari dinas kesehatan terkait penanganan habitat tikus di lingkungan warga.
LANGKAH STRATEGIS PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN HABITAT TIKUS
Mengingat belum adanya laporan kasus penularan antar-manusia, langkah intervensi terbaik berfokus memutus rantai penularan dari hewan pengerat ke manusia. Berdasarkan data pemantauan kesehatan satwa liar, sebaran Orthohantavirus pada hewan pengerat telah dilaporkan di berbagai kota besar dan pelabuhan di Indonesia, yang menegaskan bahwa risiko paparan nyata ada di sekitar kita.
Untuk meminimalkan risiko, drh. Ayu Pradipta Pratiwi menegaskan pentingnya penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) saat melakukan pembersihan. "Masyarakat wajib menggunakan masker, sarung tangan, dan alas kaki ketika membersihkan area yang menjadi jalur perlintasan tikus. Jangan menyentuh bangkai atau tikus hidup secara langsung, dan selalu siram kotoran mereka menggunakan cairan disinfektan terlebih dahulu untuk mencegah partikel virus terbang menjadi aerosol," tegasnya.
Selain penggunaan APD, pengelolaan sampah rumah tangga yang benar dan menjaga higienitas personal menjadi kunci utama. Menutup akses masuk tikus ke dalam rumah, menyimpan makanan dalam wadah tertutup, serta rutin mencuci tangan menggunakan sabun di air mengalir selama 40–60 detik atau hand sanitizer berbasis alkohol selama 20–30 detik secara signifikan dapat menekan potensi penularan di tingkat keluarga.